Poster maket Easter Island
Cultural Landscape Architect
sharing about cultural landscape
Sabtu, 18 Oktober 2014
Sabtu, 11 Oktober 2014
Warna dalam Desain
Warna
Warna
dalam arsitektur dipergunakan untuk menekankan atau memperjelas karakter suatu
objek atau memberikan aksen pada bentuk dan bahannya. Abad ke-18 sarjana
Inggris bernama Newton, mengemukakan dasar leori warna yang tak lain adalah
gelombang cahaya. la menuliskan bahwa bila seberkas gelombang cahaya matahari
melalui sebuah prisms, akan lerurai hingga terjadi spektrum warna yang
masing-masing mempunyai kekuatan gelombang menuju ke mats kita, sehingga kita
dapat melihat warna. Spektrum cahaya itu sendiri terdiri dari warna pelangi
yang kita kenal, yakni merah, jingga (oranye), kuning, hijau, biru, nila
(indigo), dan ungu (violet), yang berurutan sehingga membentuk lingkaran warna.
Dan
warna-warna ini disebut warna-warni dasar, di samping warna putih dan hitam.
Jika diperhatikan lebih teliti lagi, maka terdapat sinar yang tidak dapat
dilihat oleh mata manusia, yaitu sinar inframerah dan ultraviolet.
Warna
pada desain umumnya hanya dikenal dalam dua kelompok warna yakni RGB dan
CMYK masing-masing-masing warna ini dapat digunakan sesuai dengan medianya.
Agar lebih gampang mengingatnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. RGB (Red, Green, Blue)
Pada
dasarnya warna ini digunakan untuk output monitor. RGB merupakan model
warna yang menggunakan intensitas cahaya additive. Bermain warna RGB memang
lebih mengasikkan karena warna yang dihasilakan lebih kaya, namun ada kelemahan
dengan warna ini diantaranya merk dari masing-masing monitor, LCD dan
sebagainya tidak menghasilkan warna yang sedikit melenceng, dan dipengaruhi
oleh VGA di masing-masing komputer anda. Apabila RGB ini
dikombinasikan maka akan akan menghasilkan warna putih. skema warna RGB
dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
2. CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black)
Warna
CMYK digunakan pada industri percetakan. CMYK adalah jenis ini
biasanya ditimpakan pada media berbahan dasar warna putih karena dapat menyerap
panjang struktur cahaya tertentu atau yang disebut dengan subtractive.
Dalam
teori warna antara lain kita mengenal adanya dua macam sistem yang umumnya
digunakan dalam pelaksanaan menyusun warna yaitu Prang color system dan Musell
color system. Menurut teori Prang, secara psikologi warna dapat dibagi menjadi
3 (tiga) dimensi, yaitu:
· Hue : semacam temperamen mengenai
panas/dinginnya suatu warna.
· Value : mengenai gelap terangnya warna.
· Intensity:
mengenai cerah dan redupnya warna
Selanjutnya
Prang juga membagi adanya kelas warna menjadi beberapa warna sebagai berikut:
· Primary
Merupakan warna utama/pokok, yaitu merah, kuning, dan biru.
· Binary
: Yaitu warna kedua dan yang terjadi dari gabungan antara dua warna priminary.
Warna tersebut ialah merah + biru = violet-, merah + kuning = oranye; biru +
kuning = hijau.
· Warna
antara (intermedian) : Warna ini adalah warna campuran dari warna primary dan
binary, misalnya merah dicampur hijau menjadi merah hijau.
· Tertiary
(warna ketiga) : Merupakan warna-warna campuran dari warna binary. Misalkan, violet
dicampur dengan hijau dan sebagainya.
· Quanternary
: lalah warna campuran dari dua warna tertiary. Misalnya semacam hijau violet
dicampur dengan oranye hijau; oranye violet dicampur dengan oranye hijau; hijau
oranye dicampur dengan violet oranye.
Sedangkan
menurut Munsell, satu warna ditentukan oleh 3 (tiga) komponen, yaitu:
· Hue
: menyatakan kualitas warna atau intensitas panjang gelombang.
· Value
: kesan kemudahan warna.
· Chroma
: penyimpanganterhadap warna putih atau kejenuhan warna.
Selain
itu kita juga mengenal adanya percampuran antara warna murni dengan warna kutub
yang disebut dengan: Warna tint, shade, dan tone ini disebut warna-warni
pastel.
· Tint
: warna murni dicampur dengan warna putih sehingga terjadi warna muda.
· Shade
: warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna tua.
· tone
: warna murni dicampur dengan warna abu-abu (percampuran putih dan hitam)
sehingga terjadi warna Tanggung.
Hubungan Antar Warna
Komposisi
warna ada dapat dilakukan berbagai cara. Yang umum dikenal adalah berdasarkan
tiga warna pokok, akan tetapi ada juga yang berdasarkan emapt warna pokok.
Berdasarkan warna tersebut komposisi warna juga bersifat sebagai berikut.
A. Keselarasan Berhubungan
Artinya warna – warna
harmonis yang diambil dari warna yang berhubungan, yaitu:
1. Monochromatic
(satu warna) : Bilamana dipergunakan hanya satu warna sebagai dasar komposisi
yang menghasilkan nada-nada warna, bayangan, dan variasi dari warna – warna
tersebut.
2. Analogus
(berurut) : Bilamana mempergunakan dua warna yang letak di dalam lingkaran
warna yang berurut dan sama sifatnya (misalkan sama-sama bersifat sejuk)
B. Keselarasan yang Tidak Berhubungan
Artinya warna-warna
tampak selaras/harmonis dan warna-warna tersebut adalah sederajat antara lain:
1. Komplementer
: Yaitu jika yang dipergunakan warna dasar adalah dua warna yang berhadapan
posisinya dengan warna primary yang sifatnya berlawanan. Bilamana kedua warna
tersebut berhadapan langsung disebut Direct Complementary. Sedangkan bila
letaknya membentuk sudut maka disebut Split Complementary.
2. Polychromatic
: Yaitu komposisi yang mempergunakan lebih banyak warna dari spa yang disebut
di atas. Biasanya kesan dari komposisi ini sangat ramai.
Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu:
Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu:
· Harmoni
suatu keselarasan warna yang monochromatic yang diciptakan di sekitar hue
· Kontras
mempunyai susunan warna dari variasi value dan intensity tertentu
· Aksen
warna akan merupakan variasi susunan warna yang ada.
Penerapan dan Fungsi Sirkulasi Air dalam sebuah Desain Lanskap
Sirkulasi Air
Sirkulasi
adalah prasarana penghubung vital yang menghubungkan berbagai kegiatan dan
penggunan dalam sebuah tapak. Sirkulasi dapat juga digambarkan sebagai satu
satunya cara seseorang untuk bisa mengalami sepenuhnya tapak dalam 3 dimensi.
Jadi, Sirkulasi Air adalah prasarana
penghubung vital yang menghubungkan kegiatan dalam ruang lingkup hidrologi
(air) atau pergerakan air dalam sebuah tapak.
Tinggi rendahnya atau jatuhnya air akan menimbulkan
suara yang membuat perasaan tersendiri bagi orang yang menikmatinya. Selain
itu, efek gemericik air menjadi kolaborasi yang apik antara rumah dan taman.
Serta sebagai media komunikasi antara arsitektur dan lanskap dengan bentuk
kekontrasannya yang alami.
Untuk
harmonisasi, sebuah taman dapat memberi tambahan air yang menyatu dengan alam
atau eksterior rumah. Banyak nilai positif yang biasa didapat dengan
memanfaatkan air sebagai salah satu elemen pengisi interior rumah. Air memang
dapat digunakan melengkapi ruang luar atau dalam. Taman halaman depan atau
belakang terasa kurang lengkap jika tak ada unsur air. Ini berlaku juga bagi
ruang-ruang di dalam rumah.
Berikut
adalah beberapa penerapan sirkulasi air yang biasa diterapkan dalam sebuah
desain, baik desain interior maupun exterior:
1. Waterwall,
yang menghasilkan gemericik yang cenderung tenang.
2. Air
terjun (Waterfall), Karena jumlah debit air yang keluar lebih besar, suara yang
ditimbulkan lebih gemuruh.
3. Watercurtain,
air dialirkan melalui media berupa senar berbahan khusus atau curtain lace
sehingga terlihat seperti tirai air
4. Mini
pond / Portable pond, untuk mengatasi keterbatasan lahan dan banyak yang
tinggal di apartemen sementara di sisi lain memerlukan interaksi dengan alam,
maka diciptakan jenis mini pond atau portable pond. Mini pond
dapat dibongkar pasang dengan komponen berupa bak fiber glass, batu
dan sculpture yang biasanya dijual dalam satu paket. Pada foyer
biasanya dipasang mini pond sebagai meja konsol atau cermin. Agar
permainan air lebih dramatis, sebaiknya ditambahkan efek lighting.
5. Kolam
renang (swimming pool), selain untuk mempercantik tapak dan menambah
kelengkapan, kolam renang dibuat sebagai sarana untuk berolahraga yaitu
berenang
Peranan Sirkulasi Air dalam sebuah
Tapak
Dalam
merancang sebuah tapak haruslah kita memperhatikan Aspek Sirkulasi, salah
satunya Sirkulasi Air. Sirkulasi air memiliki peranan yang cukup penting dalam
kelangsungan sebuah tapak. Berikut adalah beberapa fungsi atau peranan
sirkulasi air dalam sebuah tapak:
1. Barrier
atau pembatas antar ruang
2. Edging
atau pembatas tepian ruang
3. Eye catching
atau focal point, pusat perhatian mata.
4. Background
atau latar belakang serta motion yang memberikan kesan hidup pada
ruangan.
5. Fungsi
terapi di mana gerak dan aliran suara gemericik air membuat perasaan tenang dan
tentram.
6. Fungsi
ekologis atau lingkungan hidup yang menyeimbangkan unsur alam dengan
menyejukkan dan melembapkan udara di sekitar ruang.
Langganan:
Postingan (Atom)


