Sabtu, 11 Oktober 2014

Warna dalam Desain



Warna
Warna dalam arsitektur dipergunakan untuk menekankan atau memperjelas karakter suatu objek atau memberikan aksen pada bentuk dan bahannya. Abad ke-18 sarjana Inggris bernama Newton, mengemukakan dasar leori warna yang tak lain adalah gelombang cahaya. la menuliskan bahwa bila seberkas gelombang cahaya matahari melalui sebuah prisms, akan lerurai hingga terjadi spektrum warna yang masing-masing mempunyai kekuatan gelombang menuju ke mats kita, sehingga kita dapat melihat warna. Spektrum cahaya itu sendiri terdiri dari warna pelangi yang kita kenal, yakni merah, jingga (oranye), kuning, hijau, biru, nila (indigo), dan ungu (violet), yang berurutan sehingga membentuk lingkaran warna.
Dan warna-warna ini disebut warna-warni dasar, di samping warna putih dan hitam. Jika diperhatikan lebih teliti lagi, maka terdapat sinar yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, yaitu sinar inframerah dan ultraviolet.
Warna pada desain umumnya hanya dikenal dalam dua kelompok warna yakni RGB dan CMYK masing-masing-masing warna ini dapat digunakan sesuai dengan medianya. Agar lebih gampang mengingatnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. RGB (Red, Green, Blue)
Pada dasarnya warna ini digunakan untuk output monitor. RGB merupakan model warna yang menggunakan intensitas cahaya additive. Bermain warna RGB memang lebih mengasikkan karena warna yang dihasilakan lebih kaya, namun ada kelemahan dengan warna ini diantaranya merk dari masing-masing monitor, LCD dan sebagainya tidak menghasilkan warna yang sedikit melenceng, dan dipengaruhi oleh VGA di masing-masing komputer anda.  Apabila RGB ini dikombinasikan maka akan akan menghasilkan warna putih. skema warna RGB dapat dilihat pada gambar di bawah ini.


2. CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black)
Warna CMYK digunakan pada industri percetakan. CMYK adalah jenis ini biasanya ditimpakan pada media berbahan dasar warna putih karena dapat menyerap panjang struktur cahaya tertentu atau yang disebut dengan subtractive.
Teori Tentang Warna
Dalam teori warna antara lain kita mengenal adanya dua macam sistem yang umumnya digunakan dalam pelaksanaan menyusun warna yaitu Prang color system dan Musell color system. Menurut teori Prang, secara psikologi warna dapat dibagi menjadi 3 (tiga) dimensi, yaitu:
·    Hue        : semacam temperamen mengenai panas/dinginnya suatu warna.
·    Value     : mengenai gelap terangnya warna.
·    Intensity: mengenai cerah dan redupnya warna
Selanjutnya Prang juga membagi adanya kelas warna menjadi beberapa warna sebagai berikut:
·    Primary Merupakan warna utama/pokok, yaitu merah, kuning, dan biru.
·    Binary : Yaitu warna kedua dan yang terjadi dari gabungan antara dua warna priminary. Warna tersebut ialah merah + biru = violet-, merah + kuning = oranye; biru + kuning = hijau.
·    Warna antara (intermedian) : Warna ini adalah warna campuran dari warna primary dan binary, misalnya merah dicampur hijau menjadi merah hijau.
·    Tertiary (warna ketiga) : Merupakan warna-warna campuran dari warna binary. Misalkan, violet dicampur dengan hijau dan sebagainya.
·    Quanternary : lalah warna campuran dari dua warna tertiary. Misalnya semacam hijau violet dicampur dengan oranye hijau; oranye violet dicampur dengan oranye hijau; hijau oranye dicampur dengan violet oranye.
Sedangkan menurut Munsell, satu warna ditentukan oleh 3 (tiga) komponen, yaitu:
·    Hue : menyatakan kualitas warna atau intensitas panjang gelombang.
·    Value : kesan kemudahan warna.
·    Chroma : penyimpanganterhadap warna putih atau kejenuhan warna.
Selain itu kita juga mengenal adanya percampuran antara warna murni dengan warna kutub yang disebut dengan: Warna tint, shade, dan tone ini disebut warna-warni pastel.
·    Tint : warna murni dicampur dengan warna putih sehingga terjadi warna muda.
·    Shade : warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna tua.
·    tone : warna murni dicampur dengan warna abu-abu (percampuran putih dan hitam) sehingga terjadi warna Tanggung.
Hubungan Antar Warna
            Komposisi warna ada dapat dilakukan berbagai cara. Yang umum dikenal adalah berdasarkan tiga warna pokok, akan tetapi ada juga yang berdasarkan emapt warna pokok. Berdasarkan warna tersebut komposisi warna juga bersifat sebagai berikut.
A.  Keselarasan Berhubungan
Artinya warna – warna harmonis yang diambil dari warna yang berhubungan, yaitu:
1. Monochromatic (satu warna) : Bilamana dipergunakan hanya satu warna sebagai dasar komposisi yang menghasilkan nada-nada warna, bayangan, dan variasi dari warna – warna tersebut.
2. Analogus (berurut) : Bilamana mempergunakan dua warna yang letak di dalam lingkaran warna yang berurut dan sama sifatnya (misalkan sama-sama bersifat sejuk)
B.  Keselarasan yang Tidak Berhubungan
Artinya warna-warna tampak selaras/harmonis dan warna-warna tersebut adalah sederajat antara lain:
1. Komplementer : Yaitu jika yang dipergunakan warna dasar adalah dua warna yang berhadapan posisinya dengan warna primary yang sifatnya berlawanan. Bilamana kedua warna tersebut berhadapan langsung disebut Direct Complementary. Sedangkan bila letaknya membentuk sudut maka disebut Split Complementary.
2. Polychromatic : Yaitu komposisi yang mempergunakan lebih banyak warna dari spa yang disebut di atas. Biasanya kesan dari komposisi ini sangat ramai.
Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu:
·   Harmoni suatu keselarasan warna yang monochromatic yang diciptakan di sekitar hue
·   Kontras mempunyai susunan warna dari variasi value dan intensity tertentu
·   Aksen warna akan merupakan variasi susunan warna yang ada.

Penerapan dan Fungsi Sirkulasi Air dalam sebuah Desain Lanskap


        Sirkulasi Air
Sirkulasi adalah prasarana penghubung vital yang menghubungkan berbagai kegiatan dan penggunan dalam sebuah tapak. Sirkulasi dapat juga digambarkan sebagai satu satunya cara seseorang untuk bisa mengalami sepenuhnya tapak dalam 3 dimensi. Jadi, Sirkulasi Air adalah  prasarana penghubung vital yang menghubungkan kegiatan dalam ruang lingkup hidrologi (air) atau pergerakan air dalam sebuah tapak.
Tinggi rendahnya atau jatuhnya air akan menimbulkan suara yang membuat perasaan tersendiri bagi orang yang menikmatinya. Selain itu, efek gemericik air menjadi kolaborasi yang apik antara rumah dan taman. Serta sebagai media komunikasi antara arsitektur dan lanskap dengan bentuk kekontrasannya yang alami.
Untuk harmonisasi, sebuah taman dapat memberi tambahan air yang menyatu dengan alam atau eksterior rumah. Banyak nilai positif yang biasa didapat dengan memanfaatkan air sebagai salah satu elemen pengisi interior rumah. Air memang dapat digunakan melengkapi ruang luar atau dalam. Taman halaman depan atau belakang terasa kurang lengkap jika tak ada unsur air. Ini berlaku juga bagi ruang-ruang di dalam rumah.
Berikut adalah beberapa penerapan sirkulasi air yang biasa diterapkan dalam sebuah desain, baik desain interior maupun exterior:
1.      Waterwall, yang menghasilkan gemericik yang cenderung tenang.
2.      Air terjun (Waterfall), Karena jumlah debit air yang keluar lebih besar, suara yang ditimbulkan lebih gemuruh.
3.      Watercurtain, air dialirkan melalui media berupa senar berbahan khusus atau curtain lace sehingga terlihat seperti tirai air
4.      Mini pond / Portable pond, untuk mengatasi keterbatasan lahan dan banyak yang tinggal di apartemen sementara di sisi lain memerlukan interaksi dengan alam, maka diciptakan jenis mini pond atau portable pond. Mini pond dapat dibongkar pasang dengan komponen berupa bak fiber glass, batu dan sculpture yang biasanya dijual dalam satu paket. Pada foyer biasanya dipasang mini pond sebagai meja konsol atau cermin. Agar permainan air lebih dramatis, sebaiknya ditambahkan efek lighting.
5.      Kolam renang (swimming pool), selain untuk mempercantik tapak dan menambah kelengkapan, kolam renang dibuat sebagai sarana untuk berolahraga yaitu berenang
Peranan Sirkulasi Air dalam sebuah Tapak
Dalam merancang sebuah tapak haruslah kita memperhatikan Aspek Sirkulasi, salah satunya Sirkulasi Air. Sirkulasi air memiliki peranan yang cukup penting dalam kelangsungan sebuah tapak. Berikut adalah beberapa fungsi atau peranan sirkulasi air dalam sebuah tapak:
1.      Barrier atau pembatas antar ruang
2.      Edging atau pembatas tepian ruang
3.      Eye catching atau focal point, pusat perhatian mata.
4.      Background atau latar belakang serta motion yang memberikan kesan hidup pada ruangan.
5.      Fungsi terapi di mana gerak dan aliran suara gemericik air membuat perasaan tenang dan tentram.
6.      Fungsi ekologis atau lingkungan hidup yang menyeimbangkan unsur alam dengan menyejukkan dan melembapkan udara di sekitar ruang.