Warna
Warna
dalam arsitektur dipergunakan untuk menekankan atau memperjelas karakter suatu
objek atau memberikan aksen pada bentuk dan bahannya. Abad ke-18 sarjana
Inggris bernama Newton, mengemukakan dasar leori warna yang tak lain adalah
gelombang cahaya. la menuliskan bahwa bila seberkas gelombang cahaya matahari
melalui sebuah prisms, akan lerurai hingga terjadi spektrum warna yang
masing-masing mempunyai kekuatan gelombang menuju ke mats kita, sehingga kita
dapat melihat warna. Spektrum cahaya itu sendiri terdiri dari warna pelangi
yang kita kenal, yakni merah, jingga (oranye), kuning, hijau, biru, nila
(indigo), dan ungu (violet), yang berurutan sehingga membentuk lingkaran warna.
Dan
warna-warna ini disebut warna-warni dasar, di samping warna putih dan hitam.
Jika diperhatikan lebih teliti lagi, maka terdapat sinar yang tidak dapat
dilihat oleh mata manusia, yaitu sinar inframerah dan ultraviolet.
Warna
pada desain umumnya hanya dikenal dalam dua kelompok warna yakni RGB dan
CMYK masing-masing-masing warna ini dapat digunakan sesuai dengan medianya.
Agar lebih gampang mengingatnya dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. RGB (Red, Green, Blue)
Pada
dasarnya warna ini digunakan untuk output monitor. RGB merupakan model
warna yang menggunakan intensitas cahaya additive. Bermain warna RGB memang
lebih mengasikkan karena warna yang dihasilakan lebih kaya, namun ada kelemahan
dengan warna ini diantaranya merk dari masing-masing monitor, LCD dan
sebagainya tidak menghasilkan warna yang sedikit melenceng, dan dipengaruhi
oleh VGA di masing-masing komputer anda. Apabila RGB ini
dikombinasikan maka akan akan menghasilkan warna putih. skema warna RGB
dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
2. CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black)
Warna
CMYK digunakan pada industri percetakan. CMYK adalah jenis ini
biasanya ditimpakan pada media berbahan dasar warna putih karena dapat menyerap
panjang struktur cahaya tertentu atau yang disebut dengan subtractive.
Dalam
teori warna antara lain kita mengenal adanya dua macam sistem yang umumnya
digunakan dalam pelaksanaan menyusun warna yaitu Prang color system dan Musell
color system. Menurut teori Prang, secara psikologi warna dapat dibagi menjadi
3 (tiga) dimensi, yaitu:
· Hue : semacam temperamen mengenai
panas/dinginnya suatu warna.
· Value : mengenai gelap terangnya warna.
· Intensity:
mengenai cerah dan redupnya warna
Selanjutnya
Prang juga membagi adanya kelas warna menjadi beberapa warna sebagai berikut:
· Primary
Merupakan warna utama/pokok, yaitu merah, kuning, dan biru.
· Binary
: Yaitu warna kedua dan yang terjadi dari gabungan antara dua warna priminary.
Warna tersebut ialah merah + biru = violet-, merah + kuning = oranye; biru +
kuning = hijau.
· Warna
antara (intermedian) : Warna ini adalah warna campuran dari warna primary dan
binary, misalnya merah dicampur hijau menjadi merah hijau.
· Tertiary
(warna ketiga) : Merupakan warna-warna campuran dari warna binary. Misalkan, violet
dicampur dengan hijau dan sebagainya.
· Quanternary
: lalah warna campuran dari dua warna tertiary. Misalnya semacam hijau violet
dicampur dengan oranye hijau; oranye violet dicampur dengan oranye hijau; hijau
oranye dicampur dengan violet oranye.
Sedangkan
menurut Munsell, satu warna ditentukan oleh 3 (tiga) komponen, yaitu:
· Hue
: menyatakan kualitas warna atau intensitas panjang gelombang.
· Value
: kesan kemudahan warna.
· Chroma
: penyimpanganterhadap warna putih atau kejenuhan warna.
Selain
itu kita juga mengenal adanya percampuran antara warna murni dengan warna kutub
yang disebut dengan: Warna tint, shade, dan tone ini disebut warna-warni
pastel.
· Tint
: warna murni dicampur dengan warna putih sehingga terjadi warna muda.
· Shade
: warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna tua.
· tone
: warna murni dicampur dengan warna abu-abu (percampuran putih dan hitam)
sehingga terjadi warna Tanggung.
Hubungan Antar Warna
Komposisi
warna ada dapat dilakukan berbagai cara. Yang umum dikenal adalah berdasarkan
tiga warna pokok, akan tetapi ada juga yang berdasarkan emapt warna pokok.
Berdasarkan warna tersebut komposisi warna juga bersifat sebagai berikut.
A. Keselarasan Berhubungan
Artinya warna – warna
harmonis yang diambil dari warna yang berhubungan, yaitu:
1. Monochromatic
(satu warna) : Bilamana dipergunakan hanya satu warna sebagai dasar komposisi
yang menghasilkan nada-nada warna, bayangan, dan variasi dari warna – warna
tersebut.
2. Analogus
(berurut) : Bilamana mempergunakan dua warna yang letak di dalam lingkaran
warna yang berurut dan sama sifatnya (misalkan sama-sama bersifat sejuk)
B. Keselarasan yang Tidak Berhubungan
Artinya warna-warna
tampak selaras/harmonis dan warna-warna tersebut adalah sederajat antara lain:
1. Komplementer
: Yaitu jika yang dipergunakan warna dasar adalah dua warna yang berhadapan
posisinya dengan warna primary yang sifatnya berlawanan. Bilamana kedua warna
tersebut berhadapan langsung disebut Direct Complementary. Sedangkan bila
letaknya membentuk sudut maka disebut Split Complementary.
2. Polychromatic
: Yaitu komposisi yang mempergunakan lebih banyak warna dari spa yang disebut
di atas. Biasanya kesan dari komposisi ini sangat ramai.
Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu:
Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu:
· Harmoni
suatu keselarasan warna yang monochromatic yang diciptakan di sekitar hue
· Kontras
mempunyai susunan warna dari variasi value dan intensity tertentu
· Aksen
warna akan merupakan variasi susunan warna yang ada.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar